Kamis, 17 September 2009

ALKITAB


ALKITAB
Alkitab merupakan fondasi kehidupan orang percaya, sebab itu kita semua wajib untuk
mempelajari dan menghidupi pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. (Ams 29:18,
Yer 15:16).
Alkitab merupakan kumpulan buku yang ditulis oleh banyak orang namun mereka semua
mendapatkan ilham dari sumber yang sama yaitu, Roh Kudus (2 Tim 3:16). Mereka
adalah orang-orang yang pernah hidup pada kurun waktu tertentu dan budaya tertentu.
Alkitab ditulis bukan hasil “dikte” langsung dari Tuhan namun setiap penulis kitab suci
ini mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus hingga apa yang mereka tulis sesuai dengan
tujuan Tuhan (1 Tes 2:13, Yoh 1:1-18, Mrk 1:1). Alkitab bebas dari kekeliruan atau
kesalahan sebab Roh Allah sendiri yang telah memimpin mereka menulis tiap kitab.
Alkitab menjelaskan sendiri bahwa Alkitab merupakan perkataan Allah (2 Tim 3:16),
barangsiapa menambahi atau mengurangi akan mendapatkan hukuman dari Tuhan sendiri
(Why 22:18-19).
Alkitab terdiri dari dua bagian yaitu :
Perjanjian Lama (39 kitab) yang terbagi atas:
- Kitab Pentateukh/Taurat : Kejadian – Ulangan (5 kitab)
- Kitab Sejarah : Yosua – Ester (12 kitab)
- Kitab Sajak : Ayub – Kidung Agung (5 kitab)
- Kitab Nabi-nabi Besar : Yesaya – Daniel (5 kitab)
- Kitab Nabi-nabi Kecil : Hosea – Maleakhi (12 kitab)
Perjanjian Baru (27 kitab) yang terbagi atas:
- Kitab Injil : Matius – Yohanes (4 kitab)
- Kitab Sejarah : Kisah Para Rasul (1 kitab)
- Surat-surat Paulus pada orang kudus : Roma – 2 Tesalonika (9 kitab)
- Surat penggembalaan Paulus : 1 Timotius – Filemon (4 kitab)
- Surat kiriman pada orang percaya : Ibrani – Wahyu (9 kitab)
Mengapa kita perlu merenungkan, mempelajari dan taat pada Firman Tuhan? :
1. Sebab Firman Allah adalah Allah sendiri (Yoh 1:1-2)
2. Sebab Firman Allah adalah kebenaran yang sejati (Mzm 119:160)
3. Firman Allah adalah sempurna sudah tahan uji kebenaranNya dan kemurnianNya
(Mzm 19:8-9, Ams 30:5)
4. Firman Allah adalah kehidupan bagi kita (Flp 2:16)
5. Firman Allah adalah makanan bagi jiwa bagi kita (Mat 4:4)
6. Firman Allah adalah suluh dan terang bagi jalan kita (Mzm 119:105)
7. Firman Allah adalah guru yang mengajar dan menuntun kehidupan kita (2 Tim
3:15-16)
8. Firman Allah adalah senjata pedang Roh yang kuat (Ef 6:17, Ibr 4:12)
9. Pertumbuhan rohani (Yer 15:16, Yeh 3:1-3, 1 Ptr 2:2, 1 Kor 3:1-2, Ibr 5:12-14)
10. Menghindarkan dari perbuatan dosa (Mzm 119:9,11,133)
11. Untuk menikmati kesehatan dan kesembuhan (Kel 15:26, Mzm 107:20, 119:50)
12. Agar hidup berkelimpahan (Yos 1:8, Mzm 1:1-3)
13. Untuk tetap hidup dalam jalan Allah dan tetap merdeka (Mzm 119:104-105, 130)
Bagaimana kita menggali Firman Allah?:
1. Anda belajar melalui wahyu dari Roh Kudus.
Pelajari seluruh buku. Hal ini menyangkut:
- Siapa pengarangnya
- Kapan kitab tersebut ditulis
- Kepada siapakah kitab itu ditujukan
- Mengapa kitab tersebut ditulis
- Problem utama atau topik utama
- Apakah ayat-ayat kuncinya
2. Membaca setiap kitab pasal per pasal secara sistematis
3. Mempelajari ayat per ayat.
4. Mempelajari kata atau topik tertentu.
5. Mempelajari karakter tokoh-tokoh dalam Alkitab.

Selasa, 15 September 2009

DOA PRIBADI


DOA PRIBADI
Beberapa orang menggambarkan bahwa doa merupakan nafas kehidupan orang percaya,
tanpa kehidupan doa, orang Kristen seperti seekor ikan tanpa kolam. Doa merupakan
kebutuhan orang percaya. Doa juga merupakan ungkapan hati kita yang kita nyatakan
pada Bapa Surgawi kita, bukan sebagai ritual agamawi namun sebagai hubungan yang
intim, selayaknya seorang anak berbicara pada ayahnya atau mempelai wanita pada
mempelai prianya. Doa berarti terjadinya komunikasi dua arah antara kita dengan Allah,
bukan hanya sepihak.
Saat kita bersama dengan Tuhan merupakan waktu yang paling dinamis dimana Ia
melepaskan kuasaNya untuk mengubah kita, keadaan kita dan lain-lain.
Dalam pelajaran ini kita akan lebih banyak membahas perihal doa pribadi sebagai
langkah awal memiliki kehidupan doa sebagai orang percaya. Doa korporat atau bersama
akan menjadi lebih penuh kuasa bila para pendoanya memiliki kehidupan pribadi yang
kokoh.
Bagaimana kita berdoa? (Mat 6:6)
1. Motivasi yang benar (Mat 6:5)
2. Hubungan yang benar dengan Allah sebagai Bapa (Luk 11:11-13)
3. Kepercayaan yang sungguh kepada Tuhan (Mzm 55:16-17)
4. Membuang penampilan doa yang dibuat-buat (Mrk 55:16,17)
5. Cara kita menyatakan perasaan dan beban dalam percakapan dengan Tuhan dapat
berupa:
- Pemujaan (Mzm 34:1-4)
- Pengakuan (1 Yoh 1:9)
- Permohonan (Mat 7:7)
- Ucapan Syukur (Ef 5:4,20)
Kapan kita berdoa?
Bila kita perhatikan di dalam Alkitab para pahlawan iman memiliki disiplin doa pribadi
bahkan lebih jauh Rasul Paulus menekankan agar kita semua berdoa setiap waktu (Ef
6:18).
Mari kita lihat contoh para pahlawan iman kapan saja mereka berdoa? :
- Daniel berdoa tiga kali sehari (Dan 6:11)
- Daud berdoa tujuh kali sehari (Mzm 119:164)
- Yesus brdoa pagi-pagi benar (Mrk 1:35) atau sepanjang malam (Luk 6:12)
Apa yang didoakan?:
- Diri sendiri (1 Taw 4:10)
- Saling mendoakan (Yak 5:16)
- Bagi pelayanan dalam Tubuh Kristus (2 Tes 3:1)
- Untuk orang sakit dan menderita (Yak 5:13-16)
- Bagi orang yang jatuh dalam dosa (1 Yoh 5:16)
5 Perintah Yang Berhubungan Dengan Doa:
a. Senantiasa berjaga dalam doa (Luk 21:36)
b. Berjaga dalam doa agar tidak jatuh dalam pencobaan (Mat 26:41)
c. Berdoa bagi penguasa dan pejabat pemerintah (1 Tim 2:1,2)
d. Berdoa bagi para pekerja di ladang Tuhan (Luk 10:2)
e. Berdoa bagi mereka yang memusuhi kita (Luk 6:28)
Roh Kudus, Penolong kita dalam doa (Rm 8:26)
Saat Roh Kudus datang, Ia akan mengajar kita (Luk 12:12), memimpin kita berdoa (Rm
8:27), dan menolong kita hidup beriman pada Kristus (Ef 3:16,17).
Saat kita bertambah jatuh cinta pada Tuhan maka Roh Kudus dengan cara yang khusus
akan memenuhi kita dengan RohNya hingga kita dapat berdoa di dalam Roh Kudus (Yud
20, Ef 6:18). Ia memberikan pada kita karunia lidah – berbicara dalam bahasa lain pada
Tuhan dalam doa (1 Kor 12:4-11)

Minggu, 06 September 2009

Kasih Bapa


KASIH BAPA
Pada hari akhir banyak sekali orang yang mengalami krisis kasih. Banyak anak
dibesarkan tanpa kasih dan perhatian yang cukup terutama dari ayah. Orangtua mungkin
menyediakan materi maupun sarana yang dibutuhkan si anak namun seorang anak bukan
hanya membutuhkan kebutuhan primer. Anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang
yang tulus dari orangtuanya.
Terlebih bila seorang anak bertumbuh dari keluarga yang berantakan, korban perceraian,
anak di luar nikah, anak yatim piatu, dll. Anak-anak ini dapat bertumbuh dewasa dalam
keadaan tanpa kasih dan perhatian yang cukup hingga mereka menjadi pemberontak
dalam kehidupan sehari-hari.
Fungsi bapa/ayah dalam keluarga Kristen:
1. Sebagai Imam (Ayb 1:5) dalam keluarga di hadapan Allah.
2. Sebagai Nabi (1 Ptr 2:9) yang menjadi pemimpin/penentu arah.
3. Sebagai Raja (1 Ptr 2:9) yang memimpin keluarga dalam otoritas Allah.
Tanda-tanda seseorang yang tidak mengalami kasih bapa/ayah diantaranya:
a. Pemberontak
b. Merasa tertolak
c. Sulit percaya pada orang lain
d. Tidak mau menerima kasih dari orang lain
e. Sulit bergaul
f. Sering menjadi “trouble maker”/biang kerusuhan
g. Mudah tawar hati
h. Putus asa
i. Sulit mengasihi orang lain
j. Suka mengkritik
k. Tidak mau tunduk pada otoritas
l. Pesimis
m. Tidak percaya diri
n. Selalu merasa gagal
o. Frustasi
p. Ingin bunuh diri
Kasih Allah Bapa menutupi kasih bapa/ayah kita yang tidak sempurna. Saat kita
diselamatkan oleh penebusan Kristus, kita menjadi anak-anak Allah (Gal 3:26, Yoh 1:12,
Rm 8:14-15). Kita dapat melihat menifestasi kasihNya melalui:
- KasihNya yang penuh pengorbanan (Yoh 3:16, 1 Kor 14:1-7)
- PengampunanNya (Mzm 103:8-9)
- PenghiburanNya (2 Kor 1:3)
- PembelaanNya (Yoh 15:1-8)
- DidikanNya (Ibr 12:5-11)
- NasihatNya (Mzm 73:24)
- Mencukupi segala kebutuhan kita (Mzm 23)
Bagaimana kita dapat mengalami Kasih Bapa?
a. Akui kekecewaan maupun luka yang ada dalam hati kita terhadap figur ayah atau
bapak atau orangtua kita.
b. Menyadari bahwa Tuhan kita adalah kasih adanya dan kasihNya jauh lebih besar
dan sempurna.
c. Mengizinkan Roh Kudus bekerja dalam hati hingga kasih Bapa itu dapat mengalir
memenuhi bejana yang kosong dan mengalami kasih Bapa Surgawi.
d. Hidup terus dalam pengenalan akan Bapa setiap hari melalui doa dan perenungan
Firman Tuhan.

Minggu, 30 Agustus 2009

Baptisan Roh Kudus


BAPTISAN ROH KUDUS
Kata baptisan berasal dari bahasa Yunani baptizo yang berarti dicelupkan ke dalam air.
Bila suatu benda dicelupkan ke dalam air, itu berarti bagian dalam maupun luar benda
tersebut akan dipenuhi dan diselubungi air.
Begitu pula dengan seorang Kristen yang dibaptis oleh Roh Kudus. Pribadi itu akan
dipenuhi dan diselubungi oleh Roh Kudus. Ia menerima kuasa untuk hidup dalam
kebenaran Firman Tuhan sebagai anak Allah.
Bapa di surga tahu bahwa dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini berat tanpa kita
mendapatkan kuasa dan bimbingan dari Roh Kudus untuk mampu hidup sesuai standar
Tuhan dan dapat memperlebar Kerajaan Allah (Yoh 14:18, 16)
Kata kuasa dalam Kis 1:8 berasal dari kata Yunani dunamis yang berarti dinamit atau
dinamo. Baptisan Roh Kudus diberikan pada orang percaya agar mereka dapat menjadi
saksi bagi Yesus. Bersaksi dalam bahasa aslinya Yunani adalah martur atau martus yang
berarti martir. Tidak mungkin seorang mau menjadi martir kecuali ia dipenuhi Roh
Kudus.
Mengapa kita perlu dibaptis dalam Roh Kudus?
1. Agar tubuh kita menjadi bait Allah (1 Kor 3:16)
2. Agar kita setiap hari terus menerus disempurnakan menjadi segambar dengan
Kristus (Rm 8:26-30, 2 Kor 3:18)
3. Agar kita dapat menikmati kasih Allah (Rm 5:5)
4. Agar kita makin intim dan mengerti isi hati Bapa (Ef 2:18, 1 Kor 2:10)
5. Agar kita mengerti pimpinan Tuhan (Rm 8:14)
6. Agar kita menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:23-24)
7. Agar kita berdoa menurut kehendakNya (Rm 8:26)
8. Agar kita memiliki kuasa untuk mengontrol pikiran kita agar sesuai dengan
pikiran Kristus dan memiliki otoritas atas penyakit dan setan & menjadi saksi
Kristus (Kis 1:8, Ef 6:10-20)
Bagaimana caranya untuk menerima Baptisan Roh Kudus?
1. Sungguh-sungguh bertobat dan meninggalkan hidup yang lama. (Kis 2:38)
2. Memiliki rasa haus dan lapar untuk mengenal Tuhan lebih lagi (Yoh 7:37)
3. Mintalah; mintalah kepada Bapa untuk membaptismu dengan Roh Kudus agar
engkau dapat menjadi saksi bagi Kristus dan disanggupkan hidup dalam
kepenuhan Allah. (Luk 11:9-13)
4. Terimalah dan bersyukur; apa yang kau minta, telah kau terima. (Gal 3:14)
5. Mulai berbicara dalam bahasa yang lain. Tujukan pikiranmu pada Yesus dan
pujilah Dia. Jangan pikirkan kata-kata apa yang akan engkau ucapkan. Karunia
bahasa lidah akan keluar dengan sendirinya dari mulutmu saat engkau berdoa dan
memujinya. (Kis 2:4, 1 Kor 14:2-4, Yak 2:17)
Adakah penghalang kita menerima baptisan Roh Kudus?
Beberapa orang Kristen terhalang akibat:
a. Dosa (Mzm 24:1-4)
b. Tidak mengampuni (Mat 6:15). Jika kita tidak mengampuni orang yang
bersalah kepadanya, maka dia tidak diampuni oleh Bapa. Pengampunan
merupakan keputusan dan bukan berdasarkan perasaan.
c. Terlibat praktek-praktek terlarang atau okultisme (UL 18:10-12).
Perbuatan ini haruslah diakui, ditinggalkan dan dilepaskan.
d. Ketakutan, ketidakpercayaan atau bimbang (Luk 11:10-13); Kita tidak
perlu merasa takut akan menerima roh yang sesat atau kerasukan roh jahat.
Tuhan menjamin bila kita meminta Roh Kudus pada Bapa, Dia pasti akan
memberikanNya pada kita.
e. Ketidakpercayaan akibat pengajaran yang menentang baptisan atau
kepenuhan Roh Kudus (Yak 1:6-8)
f. Menolak, menutup diri.
Tanda seseorang dibaptis Roh Kudus:
- Berkata-kata dalam bahasa baru (Kis 2:4,11,15, Mrk 16:17)
- Ada buah Roh Kudus dalam kehidupan orang tersebut (Gal 5:22-23)
- Menjadi saksi Kristus yang efektif (Kis 1:8)
- Menerima karunia-karunia Roh Kudus (1 Kor 12:1-11)
- Dapat mengalahkan kedagingan (Rm 8:26, 4-6, Gal 5:16)
Apa yang terjadi saat seseorang berdoa dengan menggunakan bahasa yang baru?
- Untuk berbicara kepada Allah dalam bahasa rahasia (1 Kor 14:2)
- Meneguhkan dan membangun iman (1 Kor 14:4-5)
- Berdoa sesuai kehendak Tuhan (Rm 8:26-27)
- Dapat berdoa dengan tidak berkeputusan (1 Tes 5:17)
- Dapat menyembah dalam roh (Yoh 4:23-24, 1 Kor 14:15)

Kamis, 27 Agustus 2009

KELEPASAN


KELEPASAN
Rasul Petrus menyatakan bahwa setiap orang percaya harus senantiasa waspada dan
berjaga, sebab Iblis berjalan keliling mencari orang yang dapat ditelannya (1 Ptr 5:8).
Sebagai orang percaya kita perlu senantiasa waspada dengan “pikiran” kita sebab
disitulah letak medan peperangan yang sesungguhnya. Kita bisa jatuh dan terperangkap
dalam pemikiran dan pola hidup yang salah dan bertentangan dengan Tuhan akibat
kelengahan kita tersebut.
JENIS-JENIS PENGARUH SETAN
Roh jahat dapat mempengaruhi seseorang dengan cara-cara ini:
Oppression (Tekanan)
- Roh jahat menyerang pikiran dengan memberikan pikiran-pikiran jahat dan
penipuan-penipuan (Yoh 12:3-7)
- Seseorang tidak berbuat dosa jika dia tidak menerima pikiran jahat itu. Dosa
masuk jika seseorang menerima pikiran jahat dan menikmatinya.
- Musuh akan membuat kita merasa bersalah oleh pikiran-pikiran kotor atau jahat
dalam pikiran kita.
- Tidak, kita belum berbuat dosa apabila kita menolak pikiran-pikiran kotor itu.
Menebus atau menolak pikiran-pikiran kotor atau jahat itu:
a. Ingat Yesus ada besertamu, Ia adalah Immanuel. Pandang Dia.
b. Berdoa dan sembah Dia, fokuskan pikiran kita padaNya.
c. Renungkan Firman Tuhan
d. Waspada pada apa yang kita lihat dan baca.
e. Pergi keluar dari tempat yang dapat menjatuhkan kita
Obsession (Pengaruh yang mengikat)
Roh jahat menyerang hati nurani dan kesadaran seseorang samai ia diyakinkan bahwa apa
yang salah jadi benar dan sebaliknya (Yoh 13:2)
Pelepasan dari pengaruh roh jahat :
a. Bertobat dan berbalik kepada Tuhan
b. Mengizinkan Firman Tuhan merubah pola pikirmu
Posession (Kerasukan)
Roh-roh jahat telah mengontrol sebagian atau sepenuhnya panca indera si korban (Yoh
13:27) hal ini terjadi akibat:
- Praktek-praktek terlarang yang tercantum dalam Ul 18:10-11 dapat dipakai musuh
untuk mempengaruhi seseorang. Keterlibatan berulang-ulang dalam praktek
terlarang ini bisa berkibatkan seseorang dikuasai oleh roh-roh jahat.
- Perbuatan hawa nafsu yang terus menerus berulang dilakukan berakibat dikuasai
roh hawa nafsu.
- Kesombongan, ketakutan, suatu penyakit atau luka dalam hati dapat digunakan
roh jahat untuk menguasai seseorang.
ADA 7 POKOK PERSOALAN YANG DAPAT MEMBUAT KITA DIBELENGGU
OLEH IBLIS:
1. Persoalan emosional:
Marah, geram, benci, dendam, takut, rasa tertolak, mengasihani diri sendiri, cemburu,
tertekan, rendah diri, dll.
2. Persoalan mental:
Tidak punya pendirian, ragu-ragu, bingung, pelupa,dll
3. Persoalan berkomunikasi:
Suka berbohong, caci maki, menghujat, menyalahkan, mencari kambing hitam,
mengejek, cerewet, gosip, fitnah, dll
4. Persoalan kehidupan seks:
Pikiran cabul, onani/masturbasi, hawa nafsu, perzinahan, perselingkuhan, homoseksual,
dll.
5. Persoalan kecanduan:
Rokok, ganja, minuman keras, narkoba, hyper sex, pornografi, judi, kopi, makan
makanan berlebihan, games dll
6. Persoalan kesehatan:
Selalu merasa sakit-sakitan, mengaku sakit tapi sebenarnya mencari perhatian, dapat jadi
benar-benar sakit (Luk 13:11)
7. Persoalan iman yang salah:
Mengikuti pengajaran agama-agama lain di luar Kristus, bidat-bidat sesat(Saksi Yehova,
Mormon, Gereja Setan, Christian Science, Theosophy,dll), perdukunan, ilmu-ilmu
gaib,dll.
LANGKAH-LANGKAH MENDAPATKAN KELEPASAN:
- Sadari kebutuhan kita untuk dilepaskan dari ikatan dosa tersebut (Yak 4:6b-7)
- Bertobat dari jalan hidup atau pola yang salah (Yl 2:12-14, 1:13-14, Yer 18:8)
- Mengakui dosa-dosa (1 Yoh 1:9, Yak 5:16)
- Menerima pengampunan dari Tuhan maupun mengampuni orang yang melukai
kita (Mat 6:14-15)
- Menyangkal dan memutuskan hubungan dengan dosa yang membelenggu
kita(Kis 19: 18-19)
- Mengusir roh-roh jahat yang selama ini membelenggu di dalam nama Yesus
Kristus (Yak 4:7, Why 12:7-12, Mrk 16:17-18, Luk 10:19, Mzm 18:3, Kol 2:13-
15)
- Mengucap syukur kita telah dilepaskan dan dikuduskan Tuhan Yesus (1 Yoh 1:9,
Ibr 10:19,22, 11:6)
LANGKAH-LANGKAH MEMELIHARA KELEPASAN:
- Menerima baptisan Roh Kudus (Yoh 14:15-17, Luk 24:49)
- Kenakan selengkap senjata Allah (Ef 6:10-18)
- Perkatakan perkataan positif sesuai Firman Tuhan (Mrk 11:23, Flp 4:8, Mat 4:1-
11)
- Tetap tinggal dalam Firman Tuhan (jadi pelaku Firman) (Yoh 8:31, Yak1:22-23)
- Pikul salib (Luk 9:23, Gal 5:21,24)
- Menjadikan doa dan pujian penyembahan bagian kehidupan yang natural (1 Tes
5:17, 1 Kor 14:14-15)
- Tetap bersekutu dengan saudara seiman yang dewasa dan terlibat melayani tubuh
Kristus (1 Kor 12:7-14, Kis 2: 41-47, Ibr 10:25)
- Setiap hari serahkan hidupmu dalam tangan Tuhan yang sanggup memeliharamu.
Yud 24

Selasa, 18 Agustus 2009

Citra Diri


CITRA DIRI
Definisi dari kata citra adalah gambar atau konsep sedang diri adalah keseluruhan dari
apa kita ini, cara berpikir, perasaan kita maupun tingkah laku. Jadi citra diri adalah
citra mental yang kita miliki tentang diri kita, yang terbentuk sejak lahir dan terus
berkembang mencapai kematangan. Citra diri adalah konsep mengenai diri kita
dan bagaimana diri kita berhubungan dengan orang lain. Citra diri dapat berubah
dari negatif ke positif atau sebaliknya. Citra diri jua mempengaruhi tanggungjawab
terhadap hubungan kita dengan orang lain.
Sumber-sumber yang membangun citra diri kita, pertama-tama adalah Allah namun
dengan jatuhnya manusia dalam dosa maka citra yang sempurna mulai tercemari dengan
pemikiran kita sendiri yang cenderung egois, dari apa kata orang lain tentang kita dan
dari Iblis.
Citra diri kita terbentuk dari kumpulan pengalaman-pengalaman dan tanggapan orang
lain terhadap diri kita bahkan saat kita baru berada dalam kandungan ibu kita. Nilai-nilai
yang paling sering kita dengar dan kita percayai sebagai suatu kebenaran akan
menghasilkan “nilai hati nurani”. Bila nilai yang kita percayai tersebut dilanggar maka itu
akan mengusik “emosi” kita. Bila nilai tersebut salah maka sudah dipastikan orang
tersebut pun hidup dalam “kepercayaan yang salah”.
Hal-hal yang dapat mempengaruhi citra diri kita terbentuk:
Saat dikandung oleh ibu kita, secara genetika/DNA maupun kimiawi (saat bayi berada
dalam rahim ia memiliki kemampuan mendengar, merasakan dan mengankap suasana
yang dialami sang ibu)
Sesudah lahir anak akan mendapatkan dan mempelajari nilai-nilai dari orangtuanya,
lingkungan ia dibesarkan, pendidikan, budaya suku/ desa/kota,dstnya.
Citra diri kita dapat rusak akibat kebutuhan dasar tidak terpenuhi:
1. Rasa dimiliki.
2. Rasa berharga.
3. Rasa berguna (berdaya guna)
Iblis coba merusak citra diri kita dengan memberikan konsep yang salah. Citra diri yang
rusak akan mengakibatkan kepercayaan diri yang salah pula. Iblis menawarkan konsep
citra diri sebagai bagaimana penampilan lahiriah kita atau apa kata orang lain tentang diri
kita.
Akibat konsep ini banyak diantara kita menjadi:
a. Perfeksionis
b. Lari dari tanggungjawab/resiko
c. Suka memanipulasi orang lain
d. Berusaha untuk menyenangkan orang lain agar dapat diterima dan dihormati.
e. Pesimis dalam kehidupan
f. Membandingkan dirinya dengan orang lain
g. Takut terhadap tantangan
h. Tidak dapat menentukan prioritas
i. Sukar mengasihi orang lain
j. Sulit percaya pada orang lain maupun Tuhan
k. Rasa malu yang berlebihan akibat rendah diri
l. Egois
m. Sombong akan gelar, jabatan, kekayaan dstnya.
n. Mudah tersinggung
o. Tidak punya keyakinan
p. Terlalu peka pada pendapat orang lain
q. Kuatir
r. Tidak dapat menerima perhatian orang lain
Bagaimana agar kita mengalami pemulihan?
1. Jadikan Tuhan Yesus, sebagai Tuhan dan Juruselamatmu
2. Mulai mengecek nilai-nilai yang selama ini kita percayai (2 Tim 3:16-17)
3. Mempercayai nilai-nilai yang Tuhan berikan pada kita (perubahan pola pikir –
Rm 12:2, Flp 4:8)
Contoh: kita berharga (Yes 43:4), dasyat dan ajaib (Mzm 139:14), elok (Mzm 45:3),
segambar dengan Allah (Kej 1:25-26), biji mata Tuhan (Ul 32:10)
Tanda-tanda seseorang yang citra dirinya telah pulih:
a. Optimis
b. Percaya diri
c. Sabar
d. Mau menerima perhatian orang lain
e. Tenang
f. Mengerti panggilan Tuhan dalam dirinya
g. Rendah hati
h. Tidak takut menghadapi kegagalan
i. Melangkah dengan iman
Bagaimana dengan anda? Masih memiliki masalah dan butuh bimbingan lanjutan?
Jangan sungkan untuk menghubungi kami, Tuhan Yesus memberkati.

Kamis, 13 Agustus 2009

DASAR PEMBAPAAN


DASAR PEMBAPAAN
(1 KOR 4:14-16)

1. 3 CIRI UTAMA Injil Yesus Kristus merupakan dasar pembapaan; kebenaran, anugerah dan sukacita
2. Hubungan kasih tanpa syarat, mengembangkan diri orang lain.
3. Teladan kehidupan, keterbukaan, keyakinan atau confidence.
4. Kepercayaan (dua arah)

4 hal ini secara otomatis hasilkan otoritas

Mentoring menunjukkan focus pada proses pembelajaran dari prinsip dan nilai

Proses transfer/pemindahan kehidupan terjadi melalui:
- Pembapaan
- Pemuridan
- Mentoring

Tanda seorang Bapa rohani:
1. Fleksiberl (tidak takut pada kesalahan yang dibuat anak)
2. dapat diandalkan (be there)
3. Dapat dipercayai
4. Mengasihi tanpa syarat
5. Lemah lembut (kuasa yang dapat diandalkan/grace under pressure)
6. Rendah hati (tidak mau memaksakan kehendak sendiri)

Mata kuliah “Pikul salib/ pikul kuk” setiap hari menghasilkan kita menjadi seorang yang lemah lembut dan rendah hati.

Rabu, 12 Agustus 2009

Kesembuhan bathin


KESEMBUHAN BATHIN
Apa yang dimaksud dengan kesembuhan bathin?
Seorang manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh (1 Tes 5:23).
Bagaimana jiwa manusia bisa sakit atau terluka? Saat seseorang mengalami kejadian
yang menyakitkan maka emosinya akan terluka. Emosi merupakan bagian dari jiwa,
kalau emosi seseorang terluka maka jiwanya pun terluka.
Luka-luka di masa lampau mempengaruhi reaksi-reaksi emosi seseorang terhadap situasi
tertentu. Orang percaya yang terluka di masa lampau dan belum sepenuhnya
disembuhkan akan mengalami kesulitan menaati Allah sepenuhnya.
Salah satu penghalang untuk kasih dan kuasa Allah kita alami secara pribadi adalah
akibat jiwa yang masih terluka.
Tanda-tanda jiwa yang terluka/kepahitan
- Tidak perduli pada orang lain.
- Perasa, terlalu sensitif, cepat berasumsi (mudah marah, tersinggung)
- Kurang dapat bergaul disebabkan minder, takut, malu, dll (Ams 18:1-2)
- Penuh perasaan curiga.
- Tidak tahu berterimakasih (2 Tim 3:2-4)
- Senang mengkritik orang lain, bergossip, membicarakan kekurangan orang,
menghakimi orang lain (2 Tim 2:16, 1 Tim 6:20, Ef 5:4, Rm 2:1)
- Sulit mengampuni orang lain (Mat 6:12, 14:15, 5:23-24)
- Keras kepala, tegar tengkuk, tidak mau memnundukkan diri dan acuh tak acuh
(Yud 16)
- Jiwanya labil (keputusannya berubah-ubah) jika menghadapi masalah.
- Senang bergaul dengan orang yang senasib dan mengasihani diri sendiri (1 Kor
15:33)
- Mudah frustasi, stress, putus asa dan berpikir untuk bunuh diri (Ayb 10:1-2, 3:3-
5)
- Tidak pernah puas terhadap dirinya(perfeksionis) (Yoh 4:13-15)
- Sombong, merasa tidak butuh orang lain
- Suka berdusta, perkataannya tidak dapat dipercayai.
- Hidup dalam kemunafikan, ingin selalu nampak sempurna.
Kasus-kasus yang dapat mengakibatkan kita terluka:
Ditolak orangtua (Mzm 27:10, Yes 49:15-16)
- Orangtua belum siap menjadi ayah atau ibu (upaya melakukan aborsi)
- Lahir tidak sesuai jenis kelamin yang diharapkan.
- Kehamilan di luar pernikahan.
- Suami berselingkuh saat istri tengah hamil, mengakibatkan bayi tersebut
dikandung turut merasakan ibunya yang sakit hati)
- Bayi lahir saat ekonomi keluarga belum mapan.
Kurang kasih sayang
- Anak yatim piatu. Dimana sang anak harus tinggal di Panti Asuhan atau
berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga yang lain.
- Orangtua yang menerapkan disiplin militer secara keras, kasar, kejam pada anakanaknya.
- Kurang memperhatikan anak akibat terlalu sibuk bekerja, mengejar karier dstnya.
- Pilih kasih (kasih yang tidak merata)
- Keluarga yang tidak harmonis atau broken home.
Dilukai orangtua
- Orangtua berjanji namun tidak menepati.
- Orangtua tidak bertanggungjawab terhadap keluarga (orangtua terlibat judi,
pemabuk, perzinahan, wil/pil, pengangguran dan anak yang disuruh
bekerja,dstnya)
- Orangtua yang otoriter (kekerasan dalam rumahtangga)
Terlalu dimanja
- Anak yang keinginannya selalu dituruti.
- Tidak pernah ditegur atau didisiplin (anak menjadi egois)
Pelecehan, kekerasan seks atau korban pemerkosaan
- Dilakukan oleh orangtua, anggota keluarga,dstnya
- Dilakukan oleh orang lain, teman dekat atau kekasih
Pengkhianatan
- Kekasih tidak setia
- Orangtua berselingkuh
- Pasangan hidup berselingkuh
Kekerasan Dalam rumah tangga
- secara fisik
- secara verbal
Langkah-langkah menerima kesembuhan bathin:
1. Jadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu (Rm 5:5), hingga kita
dapat mengalami kasih Kristus yang memulihkan itu.
2. Ingat kembali kejadian-kejadian apa yang melukai dirimu dimasa lalu. Jika tidak
ingat berdoa agar Roh Kudus menunjukkan kembali peritiwa tersebut.
3. Serahkan setiap peristiwa yang melukai dirimu itu pada Tuhan Yesus. Sebab Ia
perduli, Ia mau merawat dan menyembuhkan lukamu. Bila akibat terluka lalu kita
juga melakukan tindakan dosa, akui juga dosa tersebut pada Tuhan Yesus sebab
akan mengampuni dan menguduskan kita. (1 Yoh 1:9). Keterbukaan kita
merupakan awal pemulihan diri kita (Ams 28:13, Mzm 32:5)
4. Ampuni orang yang telah melukai dirimu sebagaimana Tuhan telah mengampuni
diri kita.
Bila anda butuh teman berbagi dalam hal ini atau dukungan doa dan nasehat lebih lanjut,
jangan ragu untuk menghubungi kami. Tuhan memberkati.

Rabu, 05 Agustus 2009

DIRIMU ADALAH GEREJA


DIRIMU ADALAH GEREJA

Banyak orang Kristen hidup seolah orang yang memiliki kepribadian ganda. Mengapa? Sebab di dalam gereja (tempat ibadah) nampak suci namun setelah keluar dari tempat ibadah dan kembali ke keluarga atau masyarakat, hidupnya berbeda lagi.

Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa setelah kita menyerahkan diri padaNya, dan mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, lebih lagi sebagai Raja di atas segala raja. Kita diangkat sebagai keluarga (anak Tuhan) sekaligus warga Kerajaan Tuhan (dimana kita harus tunduk pada nilai, hukum dan cara hidupNya sebagai hambaNya) dan kita diberi Amanat Agung untuk melakukan tujuan hidup kita di muka bumi di dalam rangka memperlebar Kerajaan Bapa dengan memuridkan bangsa-bangsa.
Ingatlah selalu setelah ditebus, tubuh kita telah disucikan oleh darahNya dan Ia bertahta atas hidup kita (1 Kor 6:19-20, 2 Kor 6:16b-7:1)

Kedua, pikul salib setiap hari (Luk 9:23) dan perbaharui pola pikir kita (Rm 12:1-2, 2 Kor 10:5, 1 Yoh 2:6,15-16)

Ketiga, selalu penuh dan dipimpin Roh Kudus untuk mencapai destiny Tuhan (Kis 1:8, Ef 5:18)

Kita harus memiliki integritas dalam hidup kita. Dimanapun hidup kita/ kita berada, kualitas kita tidak berubah.

Takut akan Tuhan harus:

1. Dimulai di rumah dan kualitas rohanimu teruji di rumah (1 Tim 3:2-5,12)
2. Memiliki kualitas di tempat kerja dan masyarakat (1 Tim 3:7, Kis 6:3, 9:36-39)
3. Menjadi berkat dalam komunitas Kristen/gereja (Kis 2:42-47)

Anda bisa melayani “di gereja” namun hidup keluargamu berantakan, tetapi keluarga atau pribadi yang takut akan Tuhan dan “mempraktekkan hidup Kristus” pasti bukan hanya melayani keluarganya namun juga masyarakat dan saudara seimannya/gereja.

Senin, 03 Agustus 2009

Touching the living Christ


Touching the Living Christ
by Chip Brogden
“And the whole multitude sought to touch Him, for power went out from Him and healed them all” (Luke 6:19).
“And now, little children, abide in Him” (I John 2:28a).
How do we touch the living Christ? The answer to this question depends entirely upon our relationship to Jesus. If we are part of the multitude then we must try and touch Him; but if we are one of His little children then we may simply abide in Him.
The difference, dear friends, is the difference between a religion and a relationship. The multitudes do not have a relationship with Jesus, and so they must travel to where He is and work their way into His presence in hopes of touching Him.
This is the way many church services operate. We go here and there hoping to touch something of the power of God, or the presence of God. Many times we do in fact touch something or receive something from the Lord - not because of the meeting, but in spite of the meeting. Even so, that touch does not last for very long. It is a touch, it is not the Living Christ. Soon we begin checking the calendar for the next meeting, gathering, conference, or church service so we can go back and get another touch. This represents something lacking in our walk.
I have been in many meetings where the worship leaders spent a great deal of time and energy trying to get people to “enter in” to worship or “enter in” to the presence of God. I used to lead worship this way and it can be very frustrating. Perhaps they enter in; perhaps they do not enter in. Either way, this struggle to “enter in” only proves one thing: neither the worship leaders nor the worshippers are abiding in Christ.
To abide in Him is to remain in Him. If we remain in Him we do not have to enter in to Him over and over again. That would be like trying to get into a room in which I am already sitting. Once we are in the room, and we are seated, we do not have to try and enter in.
“He who overcomes, I will make him a pillar in the temple of My God, and he shall go out no more” (Revelation 3:12a). Overcomers do not go to church to enter in to God; they do not require worship leaders to get them in the mood; they do not follow the multitudes around hoping to get a touch from the Lord. Overcomers are pillars in the Church that Jesus is building. They are permanent fixtures in the temple and they do not go out and in. They simply abide in Him.
I had the privilege last week of eating lunch with two pillars. The younger brother was from Australia, and the older brother was from England. When I say “older brother” I mean this gentleman was ninety-four years old. Before we began eating we asked the English brother to pray. Right there in the restaurant he cried out, “Heavenly Father!” He said it so slowly and deliberately and loudly that I thought his prayer would probably last thirty minutes or more. After a pause, he quietly said, “Thank you.” And we began to eat.
May I say that this brother spent no time entering in, because he was already abiding. With two or three words he brought us before the throne of God, and the very presence of Jesus was immediately manifest. This is what it means to touch the living Christ - immediately, effortlessly.
How do we abide in Christ? “As you have therefore received Christ Jesus the Lord, so walk in Him” (Colossians 2:6). Receiving Christ Jesus the Lord is the Gate, while walking in Him is the Path. The first happens in a moment, while the second is a daily process. How did we receive Christ Jesus the Lord? We came to Him with all our sins, and weaknesses, and needs, and we cast ourselves upon Him. We trusted in His Life, and His Love, and His Grace, and His Mercy to save us. And so He did.
What is the next step? It is this: to walk in Him as you received Him. “As you have received… so walk.” We are not saved by Grace and then left to live the Christian life in our own strength. Instead, we walk in Him the same way we received Him - by Grace, through Faith, and that not of ourselves. From start to finish it is the Gift of God.
I need Him as much today as I ever have. How about you? Apart from Him I can do nothing. Is this your experience also, or do you still think there are many things you can do without Him? I am still in need of His Life, and Love, and Grace, and Mercy in order to live. Are you that much different from me? I think not. We all approach Him the same way.
This understanding will naturally cause us to humble ourselves as little children. I do not know, I cannot say. I only know what Daddy says and I only see what Daddy does, and this is all I know. How do I know these things? When I pray, when I read the Scriptures, when I spend time with my brothers and sisters, when I just live life and keep my eyes open and my mouth closed, then I begin to experience intimacy with God, and that is when I begin to touch the living Christ - even though I know that these activities by themselves are not Christ. They can lead me to Him, and they can help me to abide in Him. Yet the goal is not the activity, but the intimacy.
To touch the living Christ we must first believe that He is, in fact, the living Christ. He is not dead. He is not a historical figure from two thousand years ago. He is not a mystical presence dwelling somewhere in the far reaches of the universe. He is not a system of theology or a doctrinal statement. He is not something I enter in to when I go to religious meetings, and something I leave when I go home. He is the Living Lord Who lives in me now, Who lives through me now, Who is with me everywhere I go.
This is not a complicated thing to understand, but our head tends to get in the way of our heart. The exhortation to abide is for little children, not grown-ups. Little children! There is a simplicity in Christ that the multitudes cannot comprehend. We cannot wrap our brains around it, we must immerse our hearts into it.

Jumat, 31 Juli 2009

The Four Stages of a Religious Spirit


The Four Stages of a Religious Spirit

By Mark Pfeifer www.markandnicki.com


Matthew strategically wrote his gospel account to show how the Jewish leaders rejected Jesus as their Messiah. Their debates with our Lord increased until it reached a climax in the Twelfth Chapter. This was the turning point. In the first eleven chapters, Jesus spoke openly about the Kingdom of God being offered to national Israel. After chapter twelve, however, He only spoke in dark parables. Explaining Himself to His disciples, He quoted the prophesy of Isaiah,

"And in them the prophecy of Isaiah is fulfilled, which says: 'Hearing you will hear and shall not understand, and seeing you will see and not perceive; for the hearts of this people have grown dull. Their ears are hard of hearing, and their eyes they have closed, lest they should see with their eyes and hear with their ears, lest they should understand with their hearts and turn, So that I should heal them.”
Isaiah 6:9-10

What was it about the Jewish leaders that made them resistant to the Kingdom of God? What caused them to reject what God had offered them? What did Jesus see in them that made Him conclude that they would NEVER receive it? It was a religious spirit!

Using Chapter 12 in Matthew as a guide, we can see the four stages of a religious spirit in action...

Stage #1: JUDGEMENT V-1 & 2

The Pharisees watched Jesus’ disciples pick corn in the fields and eat it on the Sabbath. This infuriated them because not participating in any labor on the Sabbath was a rule that they kept devotedly. Looking down their theological noses at the munching disciples, they took a position of moral superiority and began judging their actions.

At its root, the religious spirit is supported by pride. It makes us feel holier than others because we keep rules that they don’t. Perched atop this morally superior position, we compare ourselves to others using our religious standards as a guide. When they fall short of this measurement, we set ourselves up as their judge and draw conclusions about them which gives us the perceived right to criticize them.

Stage #2: ACCUSATION V-9 & 10

The Jewish leaders in the synagogue wanted to catch Jesus in a sin. The desire to catch Him doing something wrong was greater than their desire to see a poor man healed. So they used the man with a withered hand to try and catch Jesus doing something for which they could criticize their Messiah.

The religious spirit is sneaky! It feels compelled to get the lowdown on people in order to reveal their true motive. The cynical nature attached to a religious spirit can not believe that people would actually have a pure heart and right motive in doing something kind since deep down, those who operate with a religious spirit are always putting on a show for people.

Stage #3: DESTRUCTION V-14

The Pharisees saw that they were getting nowhere in their trickery. This led them to begin creating plans to destroy Jesus. At this point, all bets were off. They were reaching a point of no return. Instead of receiving from Him, they were more interested in shutting Him up.

People who are dominated by a religious spirit despise a challenge. The root of their extreme reactions is fear. They fight to preserve what to them is the most important ingredient to their walk with God, the law. What makes this even more deceptive in that their actions are based on a zeal for God. This is why Paul said in Romans 10:2, “For I bear them witness that they (Jews) have a zeal for God, but not according to knowledge.” This zeal for God mixes with a fear of change and creates passion. When this passion boils over, plans are be made and actions justified to eliminate any perceived threat.

Stage #4: HARD HEARTEDNESS V-23 & 24

The Pharisees had crossed the line. From this point forward, Jesus knew that their hard hearts would keep them from receiving the new form of the Kingdom of God. That’s why from this chapter forward, Jesus only spoke in parables. He saw that they had reached a point of no return.

When a person reaches this point it is impossible for them to humble themselves, repent and be forgiven. Jesus went on to talk about the unpardonable sin in the next few verses. What was happening? He was describing the only type of sin that God can not forgive - sin that is unconfused. When the religious spirit has a person at this level, they will never be forgiven because they see no need to repent. In their eyes, they have no sin. They keep all rules. It’s all those other fellows who need to be forgiven. Someone who is blinded by a religious spirit sees no need of such loathing.

Conclusion:

In identifying the four stages of a religious spirit from Matthew 12, we have also touched on four root traits of the religious spirit. Did you catch them? They are:

(1) Pride
(2) Cynicism
(3) Fear
(4) Blindness

Sometimes it’s easier to recognize those traits operating in our lives than it is to look in the mirror and see a religious spirit.

Selasa, 28 Juli 2009

PERTOBATAN


PERTOBATAN
Apakah arti tobat atau pertobatan? Dalam bahasa Ibrani, syuv berarti berputar atau
berbalik kembali. Mengacu pada tindakan berbalik dari dosa kepada Allah. Sedang dalam
bahasa Yunani, metanoia dan metanoeo, yang memiliki makna perubahan hati,
pertobatan yang nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali
berubah, putar balik dari dosa pada Allah dan mengabdi padaNya.
Pertobatan merupakan syarat mutlak untuk beroleh keselamatan. Yesus memulai
pelayananNya dengan seruan “pertobatan”. Iman dan pertobatan berjalan seiring. Iman
terarah kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan dari dosa, kekudusan, kehidupan
dan mencakup perihal membenci dosa dan meninggalkannya yang disebut pertobatan,
yakni berbalik dari dosa kepada Allah.
Pertobatan bukan hanya sekedar aspek pengakuan dosa tetapi merupakan tindakan
berbalik dari apa yang tidak berkenan kepada Allah dan memilih suatu gaya hidup yang
memuliakan dan berkenan kepadaNya. Pertobatan bukan sekedar suatu tindakan, tetapi
suatu gaya hidup, menanamkan suatu sikap untuk terus menerus berubah sampai
kehidupan kita sesuai dengan FirmanNya dan kehendakNya.
Pertobatan dari dosa adalah berpaling dari semua dosa yang diketahui dan kebiasaankebiasaan
yang bersifat dosa. “Sifat dosa” telah dikeluarkan dari roh kita. Roh kita telah
diciptakan baru di dalam gambaran dan keserupaan dengan Allah. Tetapi masih ada
“kebiasaan dosa” di dalam jiwa dan tubuh kita.
Ketika kita mematikan perbuatan-perbuatan tubuh dan jiwa dan mulai menjalani suatu
kehidupan yang bebas dari segala kewajiban untuk taat pada daging, maka kita benarbenar
dibebaskan dari roh perbudakan dan keterikatan (Rm 8:13,15)
PERTOBATAN “ANAK YANG HILANG” (Luk 15:11-24)
Tuhan Yesus menjelaskan arti pertobatan dalam kisah Anak Yang Terhilang.
Gambaran Dosa
Ada 5 gambaran dosa dalam kisah ini:
a. Keinginan diri sendiri (ayat12). Egoisme.
b. Perpisahan (ayat13). Anak terpisah dari Bapa.
c. Pemborosan (ayat13). Dosa memboroskan “harta” yang Tuhan berikan pada kita.
d. Melarat (ayat14). Keinginan orang berdosa tidak pernah terpuaskan.
e. Tenggelam/terjerat sangat dalam (ayat15-16). Dosa membawa seseorang jatuh
terperosok sangat dalam. Iblis datang untuk membunuh, mencuri dan membinasakan
(Yoh 10:10)
Langkah Menuju Pertobatan
Ada 5 langkah menuju Pertobatan:
a. Sadar (ayat17). Orang berdosa menyadari dan mengakui keadaannya yang penuh
dengan dosa.
b. Mengambil keputusan (ayat 18). Orang berdosa memutuskan untuk meninggalkan
dosa-dosanya.
c. Melaksanakan keputusannya (ayat 20). Orang berdosa mengambil tindakan dari
keputusannya.
d. Berbalik (ayat20). Berbalik pada Tuhan dan menyerahkan hidupnya pada Tuhan.
e. Pengakuan (ayat 21). Mengakui setiap dosa dihadapan Tuhan (1 Yoh 1:9). Dosa-dosa
kita diampuni karena darah Yesus dicurahkan untuk menebus segala dosa kita (1 Yoh
1:7, Ef 1:7, Rom 3:24-25)
Kuasa untuk mengalahkan dosa
Setiap orang percaya memiliki benih ilahi yaitu kehidupan Kristus sendiri. Kehidupan ini
sedemikian berkuasa sehingga mereka mampu mengalahkan dosa dan hidup dalam
kekudusan. (1 Ptr 1:23, 1 Ptr 1:15-16)
Langkah aplikasi
Berdoalah minta Roh Kudus untuk menyelidiki hati kita, masih adakah bagian dalam diri
kita yang belum diserahkan pada Tuhan? Bila ada dosa atau kebiasaan buruk yang harus
ditanggalkan mulai mengambil langkah sebagaimana yang diajarkan di atas. Bila masih
perlu bantuan, dukungan doa atau nasehat jangan ragu untuk menghubungi kami.

Minggu, 26 Juli 2009

PRINSIP DASAR


PRINSIP DASAR
Perumpamaan tentang Dua Rumah atau Orang Bijaksana dan Orang Bodoh (Mat 7:24-
27)
Dua macam manusia
Hanya ada dua macam manusia di dunia ini, yaitu:
1. Orang bijaksana
2. Orang bodoh
Dua macam dasar
Kedua orang tersebut membangun rumahnya dengan:
Pasir sebagai dasar – Orang Bodoh membangun hidupnya di atas dasar pasir. “Pasir”
adalah segala sesuatu yang mudah berubah atau dapat diubah.
Batu Karang sebagai dasar – Orang Bijaksana membangun hidupnya di atas batu karang.
Batu karang itu adalah YESUS KRISTUS. 1 Kor 10:4
Arti “angin, hujan dan banjir” dalam Mat 7:25,27
Hal tersebut berarti “goncangan-goncangan” yang Tuhan izinkan akan terjadi di dunia ini
(Ibr 12:25-27). “Goncangan-goncangan” ini adalah masalah-masalah. Tuhan
mengizinkan masalah-masalah dan berbagai pencobaan terjadi dalam hidup kita supaya
tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan (Ibr 12:27)
Bagaimana membangun di atas “batu karang”?
Kita membangun hidup di atas batu karang (Yesus Kristus) dengan mengikuti dua
langkah ini:
MENDENGAR FIRMAN ALLAH
MENTAATINYA DENGAN MENERAPKAN HAL TERSEBUT(menjadi pelaku
Firman Tuhan) Yak 1:22, Mat 7:24
Barometer kita
Bagaimana kita dapat tahu bahwa kita telah membangun di atas dasar yang benar?
Ujiannya adalah saat anda tengah menghadapi suatu masalah atau cobaan. Bagaimana
reaksi anda?

Rabu, 20 Mei 2009

PENGANTAR DOGMATIKA


PENGANTAR DOGMATIKA

(DR. RUBIN ADI ABRAHAM)


  1. NAMA


  1. Dogmatika. Istilah ini pertama kali digunakan oleh L. Fr. Reinhart pada abad ke 17.

  2. Iman Kristen/Ajaran Iman Kristen. Istilah ini digunakan oleh teolog Jerman S.J. Baumgarten dan F.D.E. Schleiermacher pada abad ke 18.

  3. Teologi sistematika, khususnya dipergunakan oleh para teolog yang berasal dari Inggris seperti Ch. Hodge, L Berkhof, A.H. Strong, dll.


  1. TEMPAT DOGMATIKA DALAM ILMU THEOLOGI


Di dalam ilmu theologi (theos = Allah, logos = ajaran), dogmatika ditempatkan dalam vak Teologi Sistematika. Ilmu teologi terbagi atas 5 vak :

  1. Teologi Biblika (eksegetis), menyelidiki apa yang tertulis dalam Alkitab. Termasuk dalam vak ini, misalnya: Pengantar PL/PB, teologi PL/PB, tafsiran, hermeneutika, bahasa.

  2. Teologi Historika, menyelidiki sejarah umat Allah dalam Alkitab dan gereja Sejas zaman Kristus. Termasuk di dalamnya: sejarah Alkitab, sejarah gereja, sejarah pekabaran Injil, sejarah ajaran dan sejarah pengakuan iman.

  3. Teologi Sistematika, menyelidiki apa yang menjadi pokok-pokok kepercayaan Alkitab, bagaimana hidup sesuai dengan kepercayaan tersebut. Yang tergolong vak ini adalah dogmatika, etika, apologetika.

  4. Teologi Praktika, membahas penerapan pokok-pokok teologi dalam kehidupan praktis untuk pembinaan dan pelayanan, meliputi: homiletika, pendidikan agama Kristen (PAK), penginjilan, administrasi gereja, dll.

  5. Teologi Religi, untuk menyelidiki agama-agama di luar kekristenan, misalnya: Islamologi, Hindu, Budha, dari sudut pandang teologi Kristen yang alkitabiah.


  1. DOGMA: Istilah dan Defininya


Istilah dogmatika berasal dari kata Yunani dogma, jamaknya dogmatika. Kata-kata ini mula-mula berarti:

  1. Pandangan/pendapat.

  2. Ajaran filsafat atau buah pikiran filsuf.

  3. Keputusan/ketetapan, perintah.

  4. Dekrit dari pihak pemerintah atau penguasa.


Di dalam Perjanjian Baru kita melihat penggunaan kata dogma dalam arti sebagai berikut:

  1. Dekrit Kaisar (Luk 2:1, Kis 17:7)

  2. Ketetapan, ketentuan Hukum Taurat (Ef 2:15, Kol 2:14)

  3. Keputusan yang diambil oleh sidang para rasul dan penatua di kota Yerusalem (Kis 16:4, 15:1-2, 19-20 keputusan yang diambil ialah hal-hal yang menyangkut moral dan upacara keagamaan)


Selanjutnya sesudah abad 11 Masehi, Dogma dipahami sebagai pengajaran yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus atau sebagai exposisi/penjelasan Injil/ ekxposisi dari kebenaran-kebenaran berita Injil. Hal itu jelas sekali dari ungkapan-ungkapan yang sering muncul pada zaman itu seperti: “Dogma Injil”, “Dogma Tuhan”. Di sini kata dogma akhirnya sampai pada pengertian yang kita kenal sekarang ini sebagai “Rumusan kepercayaan gereja Kristen”. Jadi dogmatika ada sangkut pautnya dengan isi pengakuan iman gereja.


R. Soedarmo mendefinisikan dogma sebagai: hasil penyelidikan orang percaya tentang firman Tuhan yang ditentukan oleh gereja dan diperintahkan untuk dipercayai.


Dari rumusan itu kita melihat tiga unsur tentang dogma:

  1. Hasil penyelidikan.

  2. Firman Tuhan sebagai dasar. Gereja Roma Katholik memandang “tradisi” (ajaran para rasul atau bapa gereja yang tidak tertulis dalam Alkitab) juga sebagai dasar.

  3. Yang menentukan dogma adalah gereja, bukan ahli teologia,dll.


Dogma tidak sama dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan merupakan sumber dogma dan karena itu maka dogma harus terus menerus dikontrol oleh Firman Tuhan sebab jika tak sesuai dengan Firman Tuhan dogma itu perlu diubah. Jadi dogma sifatnya relatif, tidak mutlak. Kebenaran dogma tergantung kepada sesuai tidaknya dengan Firman Allah.


  1. TUGAS DOGMATIKA


Dogmatika adalah kegiatan dari ilmu teologĂ­a yang bertugas untuk:

  1. Menyelidiki dan membuktikan apakah dogma-dogma Gereja sesuai atau tidak dengan Firman Tuhan.

  2. Merumuskan pengertian-pengertian pokok di dalam Alkitab misalnya tentang Allah, Yesus Kristus, Keselamatan, Manusia, Roh Kudus, dll. Dengan demikian obyek perhatian Dogmatika bukan melulu dogma-dogma gereja saja.

  3. Menanggapi dan menyanggah ajaran-ajaran atau pandangan dari luar kekristenan.


  1. PENTINGNYA DOGMATIKA


  1. Memberikan pegangan yang kokoh dan jelas kepada jemaat sehingga dia tidak mudah tersesat ataupun disesatkan (1 Tim 4:1-16, 2 Ptr 3:17-18)

  2. Dengan berdogmatika maka gereja bersikap mawas diri terhadap apa yang diberikannya agar supaya pemberitaannya tidak menyimpang.


  1. METODE/CARA KERJA DOGMATIKA


  1. Kita menggunakan Alkitab sebagai ukuran.

  2. Dengan memperhatikan Pengakuan Iman (Sahadat), serta pandangan reformator dan para teolog yang telah dirumuskan. Misalnya: Pengakuan Iman Rasuli (abad IV), pengakuan iman Nicea, katekismus Heidelberg (disusun oleh Ursinus, lalu oleh Olevinus). Catatan: Dogma yang tertua ialah “Yesus Kristus adalah Tuhan”.


Dalam hal ini dogmatika perlu dibantu oleh disiplin ilmu teologia lainnya seperti ilmu tafsir, teologia alkitabiah, sehingga penafsiran untuk perumusan dogmatika itu bersifat: EXEGESE = membiarkan Alkitab dipakai untuk menunjang pendapat kita. Kita harus menghindari BIBLISISME, yakni pandangan yang mengutip ayat-ayat Alkitab secara sembarangan atau hanya melihat makna harafiah saja dalam Alkitab. Biblisisme ini biasanya hanya memperhatikan apa yang tersurat tapi mengabaikan apa yang tersirat dalam Alkitab., walaupun memang ada ayat-ayat yang dapat dimengerti secara mudah dari apa yang tersurat.